Mestinya, begitulah perjalanan bersepeda dilakukan. Begitu Menyenangkan. Hanya bersepeda. Tak ada kesibukan ‘memperluas jaringan’, tak ada kegiatan ‘prospek’ untuk bisnis di kemudian hari, tak ada pamer dan memperbandingkan sepeda, yang ada hanya tawa, serta kedinginan diguyur hujan sepanjang perjalanan.

Minggu (8/2) pagi, tujuh orang berkumpul di depan gerbang UPI. Saya, Taryan, Erik, Dweyy, Ikhsan, Jerry dan Oki. Agak telat memang dari janji jam 6 yang sudah ditetapkan. Pukul 6.30, kami sudah mulai mengais kayuh. Sebagai pemandu jalan, siapa lagi kalau bukan Taryan.
Asalnya, kami berencana pergi ke Curug Putri Layung via Tangkuban Perahu. Dirasa terlalu lama dan menyita waktu, akhirnya jalan yang kami lewati adalah jalan Cihideung, lalu memotong jalan menuju parongpong dari Grha Puspa. Komplek perumahan di mana rumah makan ‘Sapu Lidi’ berada.
Maka, tanjakan-tanjakan cihideung menjadi menu sarapan yang ‘menyenangkan’. Terus begitu hingga sampai perhentian pertama di ‘Sapu Lidi’.
Lepas itu, menyeberang jalan raya parongpong, rombongan sepeda langsung masuk ke sebuah jalan desa. Aspal kasar, dihiasi batu-batu besar menambah lengkap penderitaan. Sejauh mata memandang yang ada hanya tanjakan, dengan sudut kemiringan yang besar pula.
Nantinya, jalan ini akan berganti makadam, lalu habis itu berganti jalan tanah. Tembus langsung ke hutan sekitar sukawana. Jalur yang biasa digunakan pergi pulang dari dan menuju Cikole, Jayagiri juga Gunung Putri.
Kelak, ketika masuk hutan, bakal terlihat vinyl besar bertuliskan semacam peringatan-peringatan dari Perhutani, berkenaan dengan pelestarian lingkungan. Sebagaimana yang saya lihat juga di ‘pintu-pintu masuk’ hutan lainnya di daerah sini.
Tapi, sebelum itu, rombongan sempat berhenti dua kali. Pertama, di sebuah lahan kosong di pinggir jalan, tempat melihat view Parongpong, Cisarua, Cihideung dan sekitarnya. Kedua, di sebuah warung dengan bala-bala hangat terenak di dunia. Tentu saja, bala-bala yang nikmat disantap setelah serangkaian tuntun sepeda yang kami lakukan.
Ya, jalan makadam yang menanjak, membuat sebagian besar rombongan menyerah untuk mengayuh. Alasan standar yang dikemukakan, adalah tanjakan makadamnya licin, lah; bannya slip, lah; tapi alasan sesungguhnya boleh jadi karena batas ketahanan kaki sudah mulai sampai di penghujungnya.
Hanya Taryan yang tetap di atas sadel. Mengayuh pelan, tapi pasti. Konsisten memutar pedal dengan kontrol tangan yang stabil. Percayalah, seperti Roma yang tidak dibangun dalam satu hari, kekuatan kaki dan kecakapan tangan seperti itu dibentuk dari perjalanan ke perjalanan selama kurun waktu tahunan.
Perjalanan ini, tanpa dikatakan pun sudah mengelompokkan kami dalam rentang urutan yang jelas. Taryan sudah membuktikan tanpa perlu mengatakan.
* * *
Hujan yang turun sejak pagi, tampak bersahabat benar dengan kami. Lekat sekali, seolah tak mau lepas lagi. Terus mengikuti sepanjang awal perjalanan. Hanya di daerah Sapu Lidi, hingga perhentian pertama di jalan desa yang tak terlalu deras. Lepas itu, terus mengguyur hingga sukawana.
Belakangan saya sadari, jika hujan di Setiabudhi dan parongpong berasal dari awan yang turun dari utara, maka kami pergi menuju ‘pabrik’ di mana hujan itu diproduksi.
Untung saja, rombongan bersepeda kali ini telah memperhitungkannya. Jas hujan, atau setidaknya jaket kedap air, tak luput dari persiapan. Terbukti memang, apa yang dikatakan Aa Gym, bertahun-tahun silam, “pencanaan adalah 50% kerja”. Kita menuai apa yang kita tanam, menikmati apa yang kita persiapkan.
Hujan seolah melupakan kami pada kelelahan, sekaligus mengingatkan akan masa-masa kecil menyenangkan saat bermain-main di bawah siraman hujan. Kesenangan serupa dimulai saat masuk hutan. Ketika menyusuri jalan setapak tanah yang licin dan bertemu makadam berseling rerumputan.
Mulai memuncak ketika sampai di permulaan hamparan kebun teh. Ketika jalan mulai menurun, seiring kabut tebal yang yang juga ikut turun. Sejenak, kabut sirna dari pandangan. Tapi harus dibayar dengan jaket dan raincoat yang semakin basah saja.
Sampai di tempat pemberhentian berikutnya, tenda seng tempat para pemetik teh biasa berkumpul, hujan semakin deras. Kali ini ditambah kencangnya angin yang dinginnya terasa menusuk tulang. Kami basah dan kedinginan.
Saya, Dweyy dan Taryan sempat agak khawatir saat rombongan di belakang tak juga muncul. Padahal jarak antara kami tak terlalu jauh, tapi koq tak kunjung tiba. Ikhsan, Erik, Jerry dan Oki belum muncul juga. Ternyata, di turunan, Ikhsan sempat mereparasi bannya yang gembos terkena batu besar melintang. Yang lainnya, setia menemani.
Rombongan yang lengkap, makanan berlimpah, berfoto bersama, bercanda dan tertawa membuat dinginnya siang itu agak berkurang. Pukul 10.30 saat itu, tapi rasanya masih pagi sekali. Di tempat ini, kabut dan hujan membuat waktu seolah tidak berarti.
* * *
Dingin mengalahkan segalanya. Semua sudah dilakukan, tapi dingin tak juga beranjak pergi. Harus ada yang mengalah, akhirnya kami yang pergi. Masih menyusuri jalur di mana teh terhampar di kanan kiri, hingga di tempat di mana turunan menuju jalan setapak Curug Putri Layung. Jalan setapak dengan belokan 180 derajat. Di tempat ini, matahari mulai menyapa.
Jalan setapak menuju curug sungguh curam rupanya. Ada juga halangan pohon besar tumbang yang merintangi jalan. Terpaksa sepeda harus diangkat. Begitu juga ketika masuk ke kawasan curug, jalan setapak menurun dan curum serta licin. Lucky me, pagi sebelum berangkat, saya memutuskan untuk mengenakan sepatu sepakbola. Ternyata berguna kemudian.
Tapi sepatu harus dilepas, ketika kami akan menyeberangkan sepeda. Maka, di curug putri layung itu, dengan arus yang cukup deras, berjejerlah kami bertujuh, mengoperkan satu demi satu sepeda dalam dua tahap. Tanpa harus berteriak ‘kerja sama’ (apalagi sambil mengepalkan satu tangan di atas kepala), saat itu memang harus bekerja sama agar sepeda sampai di seberang tepian di depan.
Hingga akhirnya semua sepeda sampai di tujuan. Biarpun harus dibayar oleh dinginnya air curug yang membuat pijakan terasa kebas. Baal, urang sunda bilang. Rasanya seperti direndam air kulkas, atau menginjak serpihan es.
Acara selanjutnya adalah cuci-cuci. Mencuci sepeda; mencuci kaki; mencuci sepatu; mencuci kaos kaki – dan memerasnya. Tak lama di sana. Hanya sebentaran berfoto, sepeda diangkut kembali. Kalau tadi menurun, kini sebaliknya. Jalan setapak menanjak dengan beban sepeda di pundak.
Taryan bilang, ada warung Intel di atas sana. Hmm... Indomie telor panas sepertinya mantap, apalagi hujan masih tak mau berhenti juga. Sementara Ikhsan sudah memesan duluan, saya dan Taryan masih menunggu yang lainnya datang.
Warung yang Taryan ceritakan itu, sederhana saja rupanya. Berdiri semi permanen di area perkemahan. Pinus tumbuh di sana-sini. Di sela-sela itu, tak lama, yang dinanti datang beriringan. Mengangkat sepeda dan tampak kelelahan.
Tapi saya harus melupakan Indomie Telor. Menemani Dweyy, kami beranjak duluan. Saat itu sudah pukul 12 siang lewat beberapa menit. Sudah lewat dari batas waktu yang diijinkan (deadline, wey? Hehehe).
Berharap bisa merasakan sensasi makan Indomie telor di tengah kedinginan di rumah nanti, harapan itu terkubur saat menuju pulang, saya menjumpai Parongpong, Cihideung, dan Bandung ternyata terang benderang.
* * *
Bagi saya, kesenangan lainnya adalah ketika perjalanan usai sudah. Biar pegal terkadang melanda sekujur tubuh, atau kulit yang terbakar serta menghitam beberapa grade, rasanya menyenangkan ketika melihat kembali foto-foto dokumentasi perjalanan.
Tentu saja, tak ketinggalan, untuk mengikat makna, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menuliskannya. Catatan perjalanan yang menandai apa saja yang sudah dilakukan, mungkin juga sebagai oleh-oleh buat teman atau kelak di kemudian hari jadi kenangan.
Lalu, seolah mengamini ungkapan, “jika menyenangkan, apapun bisa dikerjakan dengan cepat”, tulisan ini bolehlah mewakilinya. Mewakili perasaan senang saya yang bersepeda di hari minggu itu.
Thanks to: Taryan, Dweyy, Ikhsan, Jeri, Erik dan Oki
“Maka nikmat-Nya yang manakah, yang kan kau dustakan?”
(disebutkan berkali-kali di surat Ar Rahmaan)
Bandung, 09 Februari 2009: 14.30








Penulis : Arif Rifqi Zaidan
