21 Mei 2010

dikutip dari Ghuffron

karangan Human S Chudori

hal 69-73









…”orang bertetangga memang harus demikian, Pak Tejo. Setiap tetangga memang harus saling hormat-menghormati. Saling menjaga perasaan. Karena sesungguhnya saudara kita yang paling dekat kita ya tetangga. Tentu saja yang saya maksud disini bukan saudara sedarah. Melainkan saudara dalam arti luas. Karena yang namanya saudara bukan yang seketurunan saja. Bisa saja saudara sebangsa, saudara setanah air, dan kalau punya keimanan yang sama ya saudara sesame muslim, misalnya. Tapi, kalau mengaku muslim yang bener lho, Pak,” Ujar Ghuffron, setelah Tejo usai menceritakan laporan anaknya yang disampaikan istrinya.






“Bukankah kita sering diingatkan


innamal mukminuna ikhwatun

, baik yang disampaikan oleh khotib di masjid atau pada acara siraman rohani, entah di televisi atau radio” imbuh Ghuffron






Tejo diam. Entah kenapa ia seperti terhipnotis dengan kalimat yang baru dilontarkan tuan rumah.






…..”Nah umpamanya kalau tiba-tiba kita sakit? Siapa yang akan menolong pertama kali kalau bukan tetangga terdekat masa saya harus menunggu saudara yang dari Bekasi, di Semarang, atau saudara saya di Kutoarjo? Kalau kita mati? Siapa yang akan mengabari mereka kalau bukan tetangga?” Tanya Ghuffron






… Lelaki yang kurang bisa ngomong itu makin tak Berkutik.






“Sebagai orang beragama memang kita harus saling ingat mengingatkan. Apalagi kita bertetangga, kadang-kadang kita bisa melakukan kesalahan tanpa pernah disadari. Ya, misalnya kita menyetel kaset keras-keras yang dapat mengganggu tetangga. Lantaran kita….”






“Oh, kalau itu lain Pak!” Seru Tejo memotong kalimat tuan rumah.






“Lain apanya?” Tanya Ghuffron, “Lha orang pak tejo belum mendengar penjelasan saya, kok tiba-tiba sudah mengatakan lain.”






Mendapat pernyataan ini, Tejo diam.






“Benar yang kita setel kaset kita, disetel dirumah sendiri. Tapi, kalau suaranya terlalu keras kan sangat mengganggu tetangga. Mungkin tetangga tidak suka dengan musik yang kita setel, apalagi jika misalnya tetangga sedang sakit gigi.”






Tejo tetap diam.






“Apa pak Tejo bisa tahu ada tetangga yang sedang sakit gigi atau tidak? Kalau memang bisa tau. Tolong saya bagi ilmunya,” tambah Ghuffron, “ sebab ilmu untuk mengetahui keadaan tetangga yang sakit, pusing, stress, atau sedang mengalami….”



20 Juli 2009

“Hidup itu baru terasa manis setelah kita menjalani perjalanan panjang dan pahit, melelahkan dan penuh rintangan...”


Udara pagi musim kemarau terasa dingin menusuk tulang, tapi itu semua tidak menyurutkan niat kami untuk berpetualang di “long weekend” ini. Berbeda dengan petualangan yang lalu, kali ini saya ditemani mantan pacar, yang akan menambah serunya petualangan kali ini.






Seperti biasa meeting point dilakukan di pertigaan jalan sukawana - kol. Matsuri, tepat sebelah timur terminal parongpong yang dilalui oleh trayek Ledeng – Parongpong, Cimahi – Parongpong, dan Lembang - Parongpong. Kali ini saya berangkat dari cicadas menuju ke terminal ledeng dan selanjutnya menuju ke arah terminal parongpong, tepat pukul 8.00 saya tiba di tempat start.


Peserta kali ini terdiri dari 9 orang, yang terdiri dari saya dan istri, kang Ahdi dan Suci Fitri Yanti, Anggit dan Dewi, Hanny Suhaeni, Zakiyah nurul falah dan peserta baru yang masih imut-imut yaitu Mutia. Dari kedsembilan peserta terdapat peserta termuda, Dewi, yang baru menginjak bangku kelas 5 SD, walaupun masih kecil tapi semangat petualangannya mengalahkan teman-teman yang lain. Rencana awal berangkat pukul 8.00, akan tetapi kali ini harus ‘ngaret’ setengah jam karena harus saling menunggu, hingga perjalanan baru bisa dimulai sekitar pukul 8.30. Akibatnya sinar matahari pun mulai terasa panas menyinari seiring keringat yang mulai bercucuran.








Perjalanan dimulai dengan menapaki makadam berdebu yang menuju ke pabrik teh milik PT PN VIII, sesekali ada truk dan motor yang melintas membuat kami harus ‘aktung’ kependekan dari aksi menutup hidung karena debu yang begitu mengepul dikhawatirkan akan ikut memasuki paru-paru kami. Lalu memasuki area perumahan para karyawan pabrik teh yang merupakan kampung paling pinggir yang berbatasan langsung dengan kebun teh.







 






Sesekali ditengah perjalanan kami saling berbagi makanan ringan yang dibekal dari rumah, canda tawa, saling ejek, atau berteriak sekencang-kencangnya menghilangkan kepenat yang ada setelah jenuh bekerja. Cuaca yang cerah dan panas membuat minuman yang kami bawa cepet ludes. makadam menanjak panjang berkelok-kelok dan sinar matahari yang mulai terik membuat kami harus sering istirahat untuk kembali mengumpulkan tenaga. Udara yang sejuk serta panorama sukawana yang eksotik mengobati kelelahan kami agar cepat-cepat sampai ke tujuan, kawah upas.







Akhirnya kami tiba dipinggiran kebun teh sukawana yang sekaligus berbatasan dengan hutan tangkuban perahu, kontur tanah masih tetap menanjak, kami pun melanjutkan perjalanan pelan-pelan agar tidak kelamaan dijalan. Lalu kami kembali menemukan jalan makadam panjang berkelok-kelok dan terlihat seperti tak ada ujungnya. Dengan rasa penasaran kami terus menyusuri makadam itu hingga terlihat dengan jelas menara-menara tangkuban perahu yang biasa kami lihat dari kejauhan.


Habis makadam itu kami menyusuri jalan setapak berbatu yang menuju ke kawah upas, tepat ketika waktu menunjukan pukul 1.00, kami sampai juga dikawah upas, disana nampak pula sekawanan penghobi motor cross sedang menikmati pemandangan kawah upas yang jarang dilalui oleh wisatawan itu, karena letaknya memang yang susah dicapai oleh kendaraan beroda empat atau pejalan kaki karena letaknya sebelah barat kawah utama yaitu kawah ratu.


Keindahan kawah yang mempesona kami lalui untuk kembali menyusuri jalan setapak yang akan menuju ke penelitian petir milikk ITB, menuju kearah timur. Mengejar makan siang yang memang sudah telat dari waktunya, “salatri” kami bilang. Turun sedikit kearah parkiran kami menemukan tempat makan dengan view pemandangan yang indah.







Perut yang kosong setelah berjalan selama 5 jam dan dinginnya udara serta “view” pemandangan yang indah membuat kami cepat-cepat ingin membuka bekal kami. Saking laparnya kami makan begitu lahapnya dengan nasi yang sudah dibekal dari rumah. Ditemani dinginnya udara yang berhembus serta sekali-kali kabut meniup ke arah kami. Ah, rasanya makan siang yang sangat nikmat. Walaupun dengan lauk seadanya. “maka nikmat Tuhan yang mana yang akan kamu dustakan”.






Selesai kami makan dan istritahat, perjalanan dilanjutkan menuju parkiran bawah untuk melaksanakan shalat dan memenuhi panggilan alam. Secara bergantian dan saling menunggu barang-barang, tepat pukul 16.00 kami mulai bersiap kembali untuk menuruni jalan utama menuju jayagiri, akan tetapi ditengah perjalanan salahsatu diantara kami mengajukan untuk naik angkot, akhirnya kami mencarter angkot gelap untuk mengantarkan kami ke Lembang. Setelah tawar menawar harga pas tancap gas akhirnya kami pulang menuju lembang dengan menyisakan kelelahan yang lumayan. Disambung lagi dengan naik lagi angkot jurusan Lembang – ST. Hall dengan tujuan ledeng, karena kami punya tujuan pulang yang berbeda maka kami berpisah diterminal ledeng. Sampai disini pun kami berpamitan.


Sempat tersesat


Sebagai misi menyelesaikan “target uncomplete” ketika kami bersepeda beberapa bulan yang lalu sebagai pencarian menara sukawana bersama abah, kali ini harus komplit. Walaupun belum tahu jalan tapi saya penasaran ingin menuntaskan misi itu, walau dengan berjalan kaki, tanpa menunggang sepeda. Akibatnya kami tersesat ke tower ujung makadam, untunglah ada bapak penunggu menara yang memberi tahu kepada kami bahwa jalan yang kami lalui salah jika tujuan kami ke kawah upas.


Jalan itu katanya akan menuju ke Panaruban atau ke Situ Lembang yang akan berakhir di Lawang angin, area plang komando CiSarua. Dengan sisa-sisa tenaga akhirnya kami memutar arah untuk kembali melalui jalan yang benar, karena sesuai petunjuk bapa penjaga tower, kami harus mengikuti kabel listrik hingga kami menemukan penelitian petir milik ITB.


Cicadas, 20 Juli 2009.

05 Mei 2009

Penulis Arif "abah" Zaidan

http://abahsaidan.multiply.com



Tak afdol rasanya jika si kuning tak diperkenalkan pada Guru Taryan. Maka, hari Minggu kemarin (4/5), merupakan perjalanan pertama si kuning bersama beberapa teman. Tentu saja, dipandu guru Taryan.



Trip ini sudah kami rencanakan sejak hari Kamis, dalam percakapan Y!M dengan Taryan. "Si kuning bade disiksa ka mana, bah?" Tanya dia. Saya jawab terserah saja. Lalu, Taryan mengajukan sebuah tempat: Curug Luhur.



Di MP-nya Taryan saya pernah melihat foto-fotonya, tampak menarik terlihatnya. Curug Luhur terletak di Desa Cibodas. Jika dari Lembang, ambil jalan ke arah Maribaya. Setelah Maribaya, ke atasnya lagi ke arah Bukit Tunggul. Sampai terminal, belok kiri, di sanalah lokasi Curug Luhur berada.





Langsung saja saya iyakan. tapi, seperti kata Taryan, perjalanan nanti bukanlah perjalanan singkat (short trip). Bisa memakan waktu seharian. Jika begitu, saya harus minta persetujuan Ambu dulu. Tak lama, ijin didapat, tak ada masalah. Lalu, disepakatilah waktu perjalanan. Asalnya, memang mau hari Sabtu, jadinya bergeser satu hari. Perjalanan dilakukan hari Minggunya. Meeting point di gerbang UPI, pukul tujuh pagi.



Soal peserta juga mengalami perubahan. Tadinya hanya dua orang, saya dan Taryan, akhirnya bertambah jadi delapan orang. Saya pikir, lebih seru jika lebih banyak peserta, biarpun waktu bersepeda jadi melar beberapa lama.



Akhirnya, di Gerbang UPI itu, berkumpullah para murid Guru Taryan. Murid lama ada tiga, saya, Jeri dan Oki. Sisanya, murid baru semua. Ada Pitra (Onta) Ramadhani dan Roby Iskandar, para pustakawan bersepeda, teman sekampus dulu. Ada pula Sniper yang hendak menjajal Exrada tunggangan barunya. Juga peserta dadakan bernama Hendra, teman Roby yang tadinya cuma mau ke warung balok saja.



Pukul setengah delapan, rombongan berangkat menuju Lembang. Beberapa yang terbiasa nanjak, langsung melesat. Saya, jeri, Oki dan Taryan memilih belakangan saja. Santai saja, seperti yang saya pesankan pada Taryan malam harinya, "kang, enjing teh santey we, nya heheheh, td enjing2 nembe ti gunung masigit gua pawon:)". dibalas langsung oleh Guru Taryan, "Mangga, bah!"



Sampai di Lembang, rombongan berhenti sebentar di daerah warung balok. Menghangatkan perut dengan teh manis panas dan lemon peras. Sedikit ngopi gehu dan bala-bala juga.



Pukul sembilan lewat perjalanan dilanjutkan. Kali ini bonus turunan panjang dan berkelok sebelum kawasan wisata Maribaya lumayan memanjakan. Meskipun kemudian harus ditebus dengan tanjakan yang tak kalah panjang dan berkelok setelahnya.



Seluruh rombongan sampai di Desa Cibodas pukul sepuluh lewat. Berhenti sejenak untuk istirahat dan membeli nasi bungkus buat dimakan di Curug Luhur sana. Kabarnya, Curug ini dulunya adalah kawasan wisata. Tapi lalu ditutup karena memakan korban sepasang suami isteri yang meninggal saat bertapa. Katanya sih minta nomor, pastinya saya kurang tahu.




Tapi, ditutupnya curug sebagai kawasan wisata, nyata benar dampaknya. Setelah makadam dan jalur setapak tanah yang menanjak, kami disuguhi jalan setapak yang terlihat lama tak dikunjungi. Rumput, ranting dan alang-alang nyaris saja membuat jalan tak terlihat. Tinggi-tinggi pula, hingga mengharuskan beberapa kali berhenti karena menyangkut di pulley atau sprocket di bagian belakang.





Beberapa kali pula jalur yang tak terlihat itu menjebak sepeda, membuat terguling atau paling tidak terperosok. Tak jarang tumbuhan durinya, semacam putri malu, menggores kaki dan tangan. Bahkan, jika saja tak ada helem, bukan tak mungkin kepala menjadi korban.







Jalur yang tertutupi membuat pemandu kami beberapa kali turun dari sepeda untuk survey. Memastikan mana jalan yang benar. Suatu waktu, bahkan kami semua menempuh jalur yang salah, membuat kami harus mengulang dari persimpangan sebelumnya. Bahkan, dalam keputusaasaan, pernah kami berpikir bahwa jalur ini bukan lagi jalur sepeda.



Hingga akhirnya bertemu jalur yang benar, namun mengharuskan kami memarkir sepeda beberapa puluh meter dari lokasi curug. Perjalanan yang panjang dan melelahkan, memang. Tapi, akhirnya sampai juga di tujuan. Lalu, seperti kata Onta, begitu melihat air jatuh di ketinggian, semuanya terbayar! Sesaat setelah melihat Curug Luhur itu, rasanya ada keterpukauan yang sama terhadap keindahan alam.







Sampai di Curug, Taryan langsung berwudhu lalu menghamparkan raincoatnya untuk alas Shalat. Di sebuah batu dengan permukaan yang agak rata dan lebar. Setelah selesai, kami antri bergantian. Lelah berperjalanan terbasuh dengan dinginnya air curug saat berwudhu.







Selesai shalat, tak lama, bekal pun dibuka. Nikmat rasanya santap siang di tengah pegunungan. Apalagi jika mengingat bagaimana upaya kami bisa mencapai tempat ini. Sambil makan, saya dan Taryan berbincang tentang betapa keindahan alam selalu saja menimbulkan keterpukauan luar biasa.





Waktu kecil saya mengaji dulu, hal ini disebut ustadz sebagai Tadabbur Alam. Artinya bukan hanya sekedar wisata, katanya. Ada hal-hal yang bisa sengaja dimaknai. Tentang bagaimana Tuhan �menampakkan diri� melalui ciptaan-Nya, misalnya. Dulu, guru ngaji saya bilang kalau mau mengenal Allah, kenalilah lewat ciptaan-Nya.



Barangkali inilah yang dimaksudkan; ketika terpukau akan keindahan alam, semestinya di sana lahir kesadaran bahwa kita hanyalah makhluk kecil dan nihil. "Tiada daya dan upaya, semua hanya milik-Nya". Maka sungguh, di tempat ini saya teringatkan kembali, tidaklah Tuhan menciptakan segala sesuatu sia-sia. Maha suci Engkau, ya, Allah, semoga kami dijauhkan dari api neraka.



Selesai makan, kami agak berlama-lama di sana. Terlebih, saat itu hanya kami berdelapan yang ada di lokasi Curug (di luar yang tidak terlihat,tentu). Menjadi turis sehari, menikmati dinginnya air curug juga tak lupa bergaya di depan kamera.



Diantara kami berdelapan, hanya Jeri yang membawa kamera. Tapi itupun sudah cukup. Dokumentasi, kata Taryan adalah hal yang penting di setiap perjalanan. Boleh jadi, karena gambar hanyalah �second hand reality�, dia tidak membawa serta kepayahan kami menempuh perjalanan ini. Tak pula memperlihatkan muka frustrasi karena di depan tampak (lagi-lagi) tanjakan.



Satu-satunya hal yang terekam hanyalah kegembiraan, biarpun lepas pulang, kami basah kuyup kehujanan.



Bandung, 4 mei 2009

17 Maret 2009

“kebiasaan adalah racun sedangkan rutinitas tak lain dari pembunuh berdarah dingin”


Silent morning itulah biasa orang menyebutnya, pagi yang tenang dimana sebagian orang libur dari bekerja. Saat dimana terlepas dari rutinitas yang terkadang membuat jemu. Walaupun Cuma dua hari bahkan satu hari maka akhir pekan ini banyak orang pergi berlibur.


Seperti halnya kami, pagi itu hari saptu tanggal 7 maret 2009. Sebuah pagi yang sangat cerah dimana tak tampak satu awan pun, langit begitu bersih dan begitu biru. Jalanan belum begitu macet, hiruk pikuk dan kesibukan para tukang angkot masih belum begitu terlihat.





Kalau orang bilang petualangan adalah penjumlahan antara resiko dan tujuan, maka tujuan kami adalah Gunung Tangkuban Perahu dan tentunya dengan resiko yaitu harus berjalan kaki untuk mencapai puncak. Semua resiko yang akan terjadi telah kami minimalisir, sesuai intruksi kepala suku maka tiap-tiap kami harus membawa bekal masing-masing seperti nasi timbel komplit, makanan ringan(coklat, biscuit, dll), alat shalat, raincoat, seragam hiking, dan satu hal yang paling penting yaitu  berdoa dan shodaqoh sebelum berangkat.


Sesuai dengan rencana, kami melakukan meeting point di jalan gegerkalong hilir, tempat perhentian akhir angkot trayek cimahi – ledeng. Agis, Hanny dan Suci sudah mengunggu saya yang sedikit telat datangnya. Tanpa pembicaraan yang panjang langsung kami memutuskan untuk berangkat dan memilih angkot jurusan ST.Hall – Lembang, sembari menikmati perjalanan disertai pembicaraan ringan diangkot, sebelum akhirnya membawa kami tiba di Pasar Lembang.





Jayagiri Dua, inilah jalan yang kami susuri, awal perjalanan sudah disuguhi dengan tanjakan aspal yang panjang sampai menemukan makadam yang menanjak pula, disebuah warung dipinggir jalan kami membeli gorengan dan leupeut sebagai ganjal perut yang memang sedari pagi belum sempat sarapan.





Dari ujung makadam itu kami menemukan jalan setapak dan merupakan batas antara perumahan penduduk jayagiri 2 dengan kawasan hutan jayagiri. Disini kami istirahat sambil menghabiskan gorengan yang kami beli tadi, saya dan hanny berjalan lebih cepat dan lebih duluan, sementara agis dan suci berjalan paling belakang.





Diperhentian ini kami agak lama menunggu agis dan suci yang terlihat kecil dari kejauhan, seperti sepasukan semut yang sedang berjalan. Ketika tiba nampak wajah kelelahan menyelimuti Agis, mukanya pucat, sekujur tubuhnya tampak lemas dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Saya pun sedikit panik melihat keadaanya, lalu saya menyapanya “de agis masih kuat kan, atau mau balik lagi?” dengan semangat yang tersembunyi dijawabnya “masih kuat kang”.





Agar lebih bersemangat maka Tas yang tadinya dibawa agis dibawa oleh saya, dengan maksud meringankan bebannya karena jalan masih menanjak sampai benteng belanda. Selain itu sinar mentari yang terik mempercepat kami dehidrasi. Akhirnya sampai sudah kami di benteng belanda dimana jalan setapak yang tak lagi menanjak, dan tanpa menyuruhnya agis pun kembali meminta tas yang dibawa oleh saya, tak lupa mengucapkan terimakasih kepadaku, “makasih yah kang”.


***


Kini kami mulai memasuki hutan, pohon-pohon tumbuh tinggi dan besar tidak seperti pohon-pohon pinus di jayagiri  yang telah kami lewati. Bunga-bunga terompet berwarna putih bersih terlihat dibeberapa pinggir jalan, seperti penjaja terompet yang menjajakan barang dagangannya, diaturnya terompet-terompet itu secara alamiah. Udara begitu segarnya jauh dari polusi dan jauh dari keibisingan. Suara tonggeret menghiasi keheningan hutan berselang-seling dengan suara burung hutan yang kalau sekilas akan terdengar seperti orang melafalkan kalimat “ciiiiipeuuuww”.


Dari benteng belanda kami melalui jalan tengah hutan dengan maksud “motong kompas” ke arah parkiran bawah gunung tangkuban parahu. Sebagai tour leader saya agak sedikit kebingungan ketika mendapati sudah banyak jalur-jalur baru. Jalur-jalur itu sebagain telah rusak, berlubang dalam karena sering dilalui oleh penghobi motor cross yang memakai ban pacul (red : ban Cangkul).


“dan telah nampak kerusakan dimuka bumi karena ulah tangan manusia”





Target pertama sebentar lagi akan dijumpai, namun saya ingin mencari jalur baru dengan berbelok mengambil jalan kiri tujuannya agar cepat sampai parkiran, dan rupanya jalan yang ditempuh makin asing, akhirnya dengan keputusan bersama  kami balik arah dan melanjutkan kejalan semula. Disini bau blerang sudah tercium pekat maaf seperti bau kentut yang menusuk hidung.


Inilah petualangan kawan, sekali kau ceroboh dan sombong maka kau akan tersesat, bahkan bisa celaka. Tibalah kami di parkiran bawah tanpa istirahat  yang lama perjalanan pun dilanjutkan ke puncak kawah yang berjarak beberapa kilometer saja. Menanjak dan berkelok-kelok. Sedikit menghibur, saya pun sedikit membujuk “tenang tinggal dikit kok, dua belokan lagi!”


***


Tujuan yang utama akhirnya terlaksana, kini kami sampai dipuncak, lalu photo-photo narciscus, sambil mengagumi kemahaagungan-Nya tanpa peduli para pengunjung lain memperhatikan kami, dan seperti begitulah efek petualangan kawan, kita jadi begitu gembira begitu semangat dan semakin menambah keyakinan baru, bawha kita itu begitu kecil dihadapan-Nya.





Menyusuri ke ujung jalan sampai kami menemukan tempat yang enak untuk makan, makanan yang dibekel dari rumah, tentunya lebih hemat, lebih sehat, dan yang paling utama adalah bergizi. Kami makan begitu lahapnya, tepat ketika adzan dzuhur berkumandang dari "TOA" musholla gunung tangkuban perahu. Ada “basreng” HOT, ada “INTEL” goreng, ada “KFC”, dan sayuran lainnya. Hmmm enak.


Setelah selesai makan sambil meluruskan kaki kami yang mulai terasa pegal-pegal, kami mulai memakai kembali jaket karena udara terasa dingin. Setelah istirahat dirasa cukup maka kembali perjalanan kami lanjutkan, tanpa terduga cuaca berubah cepat, awan hitam mulai menaungi puncak gunung, dapat diprediksi sebantar lagi hujan deras akan turun, benar saja hujan turun begitu lebatnya, lalu kami berteduh, dan seusai hujan reda kami shalat di mushola lalu Perjalanan dilanjutkan.


Menuruni jalanan aspal, berlubang dan becek, sesekali diselingi kerikil-kerikil  tajam, sementara jalanan terus menurun menuju jalan setapak lagi yang akan tembus ke jalur jayagiri utama. Disini Agis dan Suci sempat “tipeleset” tapi turunan akar jayagiri tidak membuat kami ada yang terluka dan terasa seru disisa-sisa tenaga yang ada.




Sebuah tanjakan legendaries, tanjakan jayagiri, tanjakan yang dipopulerkan lewat lagu “melati dari jayagiri”. dan kini malah kami menuruninya. Sampai menemukan batas antara pintu masuk dan perumahan penduduk.





Jalan yang lurus dari jayagiri akan berada tepat disamping ketika kami berangkat, sebuah angkot jurusan Ciroyom – Lembang sudah menanti untuk kembali ke perjalanan pulang. Pulang, pulang dan istirahat. Semoga perjalanan kali ini penuh makna. (Terima kasih kepada Hanny, Agis dan Suci - Admin CyberMQ)


“Jika kau ingin menjadi orang yang berubah maka ingat 3 hal : 1. Baca Alquran 2. Belajar 3. Berkelana/Bertualang”

10 Februari 2009

Mestinya, begitulah perjalanan bersepeda dilakukan. Begitu Menyenangkan. Hanya bersepeda. Tak ada kesibukan ‘memperluas jaringan’, tak ada kegiatan ‘prospek’ untuk bisnis di kemudian hari, tak ada pamer dan memperbandingkan sepeda, yang ada hanya tawa, serta kedinginan diguyur hujan sepanjang perjalanan.






Minggu (8/2) pagi, tujuh orang berkumpul di depan gerbang UPI. Saya, Taryan, Erik, Dweyy, Ikhsan, Jerry dan Oki. Agak telat memang dari janji jam 6 yang sudah ditetapkan. Pukul 6.30, kami sudah mulai mengais kayuh. Sebagai pemandu jalan, siapa lagi kalau bukan Taryan.



Asalnya, kami berencana pergi ke Curug Putri Layung via Tangkuban Perahu. Dirasa terlalu lama dan menyita waktu, akhirnya jalan yang kami lewati adalah jalan Cihideung, lalu memotong jalan menuju parongpong dari Grha Puspa. Komplek perumahan di mana rumah makan ‘Sapu Lidi’ berada.



Maka, tanjakan-tanjakan cihideung menjadi menu sarapan yang ‘menyenangkan’. Terus begitu hingga sampai perhentian pertama di ‘Sapu Lidi’.



Lepas itu, menyeberang jalan raya parongpong, rombongan sepeda langsung masuk ke sebuah jalan desa. Aspal kasar, dihiasi batu-batu besar menambah lengkap penderitaan. Sejauh mata memandang yang ada hanya tanjakan, dengan sudut kemiringan yang besar pula.



Nantinya, jalan ini akan berganti makadam, lalu habis itu berganti jalan tanah. Tembus langsung ke hutan sekitar sukawana. Jalur yang biasa digunakan pergi pulang dari dan menuju Cikole, Jayagiri juga Gunung Putri.



Kelak, ketika masuk hutan, bakal terlihat vinyl besar bertuliskan semacam peringatan-peringatan dari Perhutani, berkenaan dengan pelestarian lingkungan. Sebagaimana yang saya lihat juga di ‘pintu-pintu masuk’ hutan lainnya di daerah sini.



Tapi, sebelum itu, rombongan sempat berhenti dua kali. Pertama, di sebuah lahan kosong di pinggir jalan, tempat melihat view Parongpong, Cisarua, Cihideung dan sekitarnya. Kedua, di sebuah warung dengan bala-bala hangat terenak di dunia. Tentu saja, bala-bala yang nikmat disantap setelah serangkaian tuntun sepeda yang kami lakukan.



Ya, jalan makadam yang menanjak, membuat sebagian besar rombongan menyerah untuk mengayuh. Alasan standar yang dikemukakan, adalah tanjakan makadamnya licin, lah; bannya slip, lah; tapi alasan sesungguhnya boleh jadi karena batas ketahanan kaki sudah mulai sampai di penghujungnya.



Hanya Taryan yang tetap di atas sadel. Mengayuh pelan, tapi pasti. Konsisten memutar pedal dengan kontrol tangan yang stabil. Percayalah, seperti Roma yang tidak dibangun dalam satu hari, kekuatan kaki dan kecakapan tangan seperti itu dibentuk dari perjalanan ke perjalanan selama kurun waktu tahunan.



Perjalanan ini, tanpa dikatakan pun sudah mengelompokkan kami dalam rentang urutan yang jelas. Taryan sudah membuktikan tanpa perlu mengatakan.



* * *



Hujan yang turun sejak pagi, tampak bersahabat benar dengan kami. Lekat sekali, seolah tak mau lepas lagi. Terus mengikuti sepanjang awal perjalanan. Hanya di daerah Sapu Lidi, hingga perhentian pertama di jalan desa yang tak terlalu deras. Lepas itu, terus mengguyur hingga sukawana.



Belakangan saya sadari, jika hujan di Setiabudhi dan parongpong berasal dari awan yang turun dari utara, maka kami pergi menuju ‘pabrik’ di mana hujan itu diproduksi.



Untung saja, rombongan bersepeda kali ini telah memperhitungkannya. Jas hujan, atau setidaknya jaket kedap air, tak luput dari persiapan. Terbukti memang, apa yang dikatakan Aa Gym, bertahun-tahun silam, “pencanaan adalah 50% kerja”. Kita menuai apa yang kita tanam, menikmati apa yang kita persiapkan.



Hujan seolah melupakan kami pada kelelahan, sekaligus mengingatkan akan masa-masa kecil menyenangkan saat bermain-main di bawah siraman hujan. Kesenangan serupa dimulai saat masuk hutan. Ketika menyusuri jalan setapak tanah yang licin dan bertemu makadam berseling rerumputan.



Mulai memuncak ketika sampai di permulaan hamparan kebun teh. Ketika jalan mulai menurun, seiring kabut tebal yang yang juga ikut turun. Sejenak, kabut sirna dari pandangan. Tapi harus dibayar dengan jaket dan raincoat yang semakin basah saja.



Sampai di tempat pemberhentian berikutnya, tenda seng tempat para pemetik teh biasa berkumpul, hujan semakin deras. Kali ini ditambah kencangnya angin yang dinginnya terasa menusuk tulang. Kami basah dan kedinginan.



Saya, Dweyy dan Taryan sempat agak khawatir saat rombongan di belakang tak juga muncul. Padahal jarak antara kami tak terlalu jauh, tapi koq tak kunjung tiba. Ikhsan, Erik, Jerry dan Oki belum muncul juga. Ternyata, di turunan, Ikhsan sempat mereparasi bannya yang gembos terkena batu besar melintang. Yang lainnya, setia menemani.



Rombongan yang lengkap, makanan berlimpah, berfoto bersama, bercanda dan tertawa membuat dinginnya siang itu agak berkurang. Pukul 10.30 saat itu, tapi rasanya masih pagi sekali. Di tempat ini, kabut dan hujan membuat waktu seolah tidak berarti.



* * *



Dingin mengalahkan segalanya. Semua sudah dilakukan, tapi dingin tak juga beranjak pergi. Harus ada yang mengalah, akhirnya kami yang pergi. Masih menyusuri jalur di mana teh terhampar di kanan kiri, hingga di tempat di mana turunan menuju jalan setapak Curug Putri Layung. Jalan setapak dengan belokan 180 derajat. Di tempat ini, matahari mulai menyapa.



Jalan setapak menuju curug sungguh curam rupanya. Ada juga halangan pohon besar tumbang yang merintangi jalan. Terpaksa sepeda harus diangkat. Begitu juga ketika masuk ke kawasan curug, jalan setapak menurun dan curum serta licin. Lucky me, pagi sebelum berangkat, saya memutuskan untuk mengenakan sepatu sepakbola. Ternyata berguna kemudian.



Tapi sepatu harus dilepas, ketika kami akan menyeberangkan sepeda. Maka, di curug putri layung itu, dengan arus yang cukup deras, berjejerlah kami bertujuh, mengoperkan satu demi satu sepeda dalam dua tahap. Tanpa harus berteriak ‘kerja sama’ (apalagi sambil mengepalkan satu tangan di atas kepala), saat itu memang harus bekerja sama agar sepeda sampai di seberang tepian di depan.



Hingga akhirnya semua sepeda sampai di tujuan. Biarpun harus dibayar oleh dinginnya air curug yang membuat pijakan terasa kebas. Baal, urang sunda bilang. Rasanya seperti direndam air kulkas, atau menginjak serpihan es.



Acara selanjutnya adalah cuci-cuci. Mencuci sepeda; mencuci kaki; mencuci sepatu; mencuci kaos kaki – dan memerasnya. Tak lama di sana. Hanya sebentaran berfoto, sepeda diangkut kembali. Kalau tadi menurun, kini sebaliknya. Jalan setapak menanjak dengan beban sepeda di pundak.



Taryan bilang, ada warung Intel di atas sana. Hmm... Indomie telor panas sepertinya mantap, apalagi hujan masih tak mau berhenti juga. Sementara Ikhsan sudah memesan duluan, saya dan Taryan masih menunggu yang lainnya datang.



Warung yang Taryan ceritakan itu, sederhana saja rupanya. Berdiri semi permanen di area perkemahan. Pinus tumbuh di sana-sini. Di sela-sela itu, tak lama, yang dinanti datang beriringan. Mengangkat sepeda dan tampak kelelahan.



Tapi saya harus melupakan Indomie Telor. Menemani Dweyy, kami beranjak duluan. Saat itu sudah pukul 12 siang lewat beberapa menit. Sudah lewat dari batas waktu yang diijinkan (deadline, wey? Hehehe).



Berharap bisa merasakan sensasi makan Indomie telor di tengah kedinginan di rumah nanti, harapan itu terkubur saat menuju pulang, saya menjumpai Parongpong, Cihideung, dan Bandung ternyata terang benderang.



* * *



Bagi saya, kesenangan lainnya adalah ketika perjalanan usai sudah. Biar pegal terkadang melanda sekujur tubuh, atau kulit yang terbakar serta menghitam beberapa grade, rasanya menyenangkan ketika melihat kembali foto-foto dokumentasi perjalanan.



Tentu saja, tak ketinggalan, untuk mengikat makna, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menuliskannya. Catatan perjalanan yang menandai apa saja yang sudah dilakukan, mungkin juga sebagai oleh-oleh buat teman atau kelak di kemudian hari jadi kenangan.



Lalu, seolah mengamini ungkapan, “jika menyenangkan, apapun bisa dikerjakan dengan cepat”, tulisan ini bolehlah mewakilinya. Mewakili perasaan senang saya yang bersepeda di hari minggu itu.



Thanks to: Taryan, Dweyy, Ikhsan, Jeri, Erik dan Oki





“Maka nikmat-Nya yang manakah, yang kan kau dustakan?”

(disebutkan berkali-kali di surat Ar Rahmaan)



Bandung, 09 Februari 2009: 14.30











 Penulis : Arif Rifqi Zaidan

03 Februari 2009


Bandung, 28 Desember 2008


“berbagi waktu dengan alam kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya hakikat manusia


akan aku telusuri jalan yg setapak ini semoga kutemukan jawaban”


Diatas adalah petikan lirik lagu GIE yang sekaligus menjadi soundtrack film gie, lirik lagu diatas yang menginspirasi awal perjalanan kami.


Cuaca akhir desember begitu bersahabat, angin pagi berhembus begitu segarnya. Akhir desember tahun ini terdapat hari-hari besar yang banyak dinanti orang seperti hari ibu, kenaikan isa almasih, tahun baru islam 1430 H, dan ditutup dengan perayaan tahun baru 2009. Maka akhir bulan merupakan liburan yang panjang bagi mereka yang berkerja sebagai pegawai negeri atau pun sebagai karyawan swasta.


Ada yang menjadikan hari libur sebagai hari kerja dan ada yang menjadikan hari kerja sebagai hari libur, ada pula yang memanfaatkan liburan sebagai proses re-charge dan menggunakan waktu liburannya semaksimal mungkin seperti pergi ke pantai, pergi ke gunung, berkunjung ke sanak saudaranya dan lain sebagainya. Maka saya lebih memanfaatkan liburan sebagai sarana olahraga bersepeda yaitu olahraganya dapat, rekreasinya dapat, silaturaminya dapat, kulinernya dapat dan yang tak kalah penting adalah menguji daya tahan fisik sejauh mana menghadapi medan yang akan dihadapi.


Tausiyah pagi di Mesjid Daarut Tauhiid yang diisi oleh Ust. Dudung Abdul Ghani, belum selesai. Tetapi kami harus berkumpul didekat masjid DT untuk melakukan meeting point sambil sarapan bubur ayam “RESTORJA” yang murah meriah. Saya, Ust. Amri, Pa Nahar, Pa Joko mulai mengayuh menuju ke arah lembang. Setelah sampai di lembang dan berhenti sejenak perjalanan dilanjut lagi menuju ketinggian 1400 m, yaitu Trek Gunung Putri.


Setelah terjajah dengan pekatnya asap knalpot, angkot yang berhenti seenaknya, bus-bus besar yang menghabiskan jalan sepanjang Jalan sethiabudi sampai pasar lembang, kini kami melewati jalur yang menanjak dan sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Inilah kemerdekaan yang kami rasakan menikmati segarnya udara pegunungan tanpa tercemari oleh asap-asap knalpot.


Di warung ujung kampung gunung putri sebelum melewati makadam, kami istirahat sekitar 15 menit untuk mengisi tangki-tangki kami sebagai persediaan untuk melanjutkan perjalanan. Keringat membasahi baju-baju kami, keringat bercucuran, dan udara dingin segera membalut tubuh kami.  Warung diujung kampung ini memang tempat yang paling enak untuk beristirahat melihat view gunung tangkuban perahu yang berhimpitan dengan gunung burangrang disebelah baratnya.





Perjalanan pun dilanjutakan menelusuri single track, makadam, hutan pinus dan jalan raya menuju tangkuban perahu. Bau blerang sudah tercium sejak kami tiba di jalan raya. Sengaja kami harus datang lebih awal ke puncak gunung karena kami akan bergabung dengan pesepeda dari Bekasi yang menamakan grup nya dengan nama ROGER BAGEN. Karena 4 pesepeda kali ini sudah terlatih maka pukul 8.45 sudah sampai puncak kawah.


***



Rombongan yang dinanti akhirnya tiba sekitar pukul 10 ketika jalanan ke sekitar parkiran atas macet total karena banyaknya pengunjung yang membawa kendaraannya masing-masing diantara itu ada juga yang membawa kendaraan dinas plat merah. Tiga pick up tiba membawa puluhan sepeda dan puluhan penunggangnya juga.


Setelah meeting poin yang dipimpin oleh pa Riki Soelaeman selaku pimpinan rombongan dan ditutup oleh doa oleh Ust Amri  kami pun berangkat. Di parkiran bawah kami berhitung sekitar 32 orang tergabung dalam trip kali ini. Melewati single track yang akan menuju jaya giri, cikole, benteng belanda, lembang, masjid lembang.



Melewati jalan setapak dengan kondisi jalan basah memerlukan konsentrasi dan kehati-hatian, salah-salah bisa terpeleset dan terjatuh. Saya mendapat amanah sebagai tim penyapu dan berada dibagian belakang rombongan. Menjadi rombongan paling belakang agar rombongan tidak terpisah ataupun kesasar.


***


Matahari bersinar begitu terik, sebentar lagi akan berada tepat diatas kepala yang pertanda tengah hari akan segera tiba. Membakar kulit tangan yang tak berpelindung, mempercepat dehidrasi seiring dengan keluarnya banyak keringat dan panasnya udara. Langit berwarna biru cerah dengan gerombolan awan-awan yang berwarna putih bersih.


Kepingan-kepingan harapan mulai membayangi langkah-langkah yang tak pernah lelah. Sebentar lagi kita akan sampai benteng belanda. Salah satu dari banyak peninggalan penjajah yang selama 350 tahun menjajah bumi ibu pertiwi. Walaupun umurnya sudah ratusan tahun tapi bangunan itu tetap kokoh, secara jujur orang tua dahulu berfikirnya sudah jauh ke depan, tidak setengah-setengah dalam berbuat sesuatu akan tetapi haruslah bermanfaat bagi anak-cucunya.





Akhirnya kita akan melewati turunan yang licin, satu persatu dari para biker melewati turunan, ada yang sangat hati-hati, ada pula yang ngebut tentunya bukan hanya sebuah kenekadan tapi melalui sebuah keberanian dan perhitungan yang matang. Roger team melewatinya dengan gagah berani, konsentrasi, teknik, dan tentunya kondisi sepeda yang mendukung untuk melewati medan jalanan yang menurun tak beraspal.


Ujung dari turunan ini memberikan bonus tanjakan yang lumayan panjang rata-rata biker menuntun sepedanya, hingga sampai diujung tanjakan. Jalan ini yang akan menuju kea rah Pasar Lembang. Tepatnya sebelah barat pasar Lembang. Lalu kami berhenti di Masjid Lembang karena sebentar lagi adzan  dzuhur berkumandang. Sambil beristirahat, ada yang photo-photo naciscus, ada yang ngobrol berkelompok ada yang jajan minuman dingin untuk menghilangkan dahaga.


***


Setelah selesai menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim dan istirahat yang cukup, perjalanan pun dilanjutkan menuju salah satu rumah makan sunda yang menyajikan menu masakan khas sunda. Nasi merah, nasi putih, sea food, Daging sapi, Aneka Ayam, tempe tahu, PETE, dan sayuran hijau segar telah tersedia di meja. Dengan lahapnya kami pun mulai menyantap hidangan yang tersedia. Nikmat sekali makan siang kali ini secara tadi pagi hanya sarapan bubur ayam. Perut yang keroncongan pun kini padat berisi, kenyang dan tenaga pun pulih kembali diiringi rasa kantuk yang mulai menyerang.




Dari arah rumah makan, lurus dan belok kiri, maka habis belokan itu akan menemui makadam yang akan menuju Boshca. Kembali, republic TTB rame-rame mendorong sepedanya menuju puncak boshca. Dari puncak Bocsha jalanan menurun dengan single track dan tanah yang tidak licin sehingga sangat menyenangkan tapi perlu kehati-hatian karena banyak jebakan.






Akhir dari turunan ini menembus eldorado dan  menyebrang jalan raya kembali menemukan jalan menurun dan single track yang akan menuju ke pondok hijau. Di kawasan inilah adrenalin kita diuji dengan turunan rumput curam, hanya biker yang bernyali besar yang dapat menuruninya. Sementara saya dan beberapa biker lainnya lebih memilih jalur kiri yang lebih aman. Dan turunan ini pun sukses dilalui teman-teman tanpa ada yang terjatuh dengan luka serius.



 




Puas prosotan, perjalanan dilanjutkan dengan kembali menapaki jalanan aspal pondok hijau menuju area hijau dengan bonus tebing curam, karena medannya terlalu curam banyak yang mengundurkan diri mencobanya. Banyak yang terjatuh disini tapi senang karena jatuhnya ke rumput, Pa Riki juga CIUT nyalinya setelah melihat ada yang jatuh dan lebih memilih turunan aman.



Setelah prosotan terakhir rombongan pun menuju KPAD di jln Topologi yaitu rumahnya Kang Aris (ROGER 03) sebagai finish akhir dan selanjutnya kami berpisah disini, Semoga perjalan kali ini bisa menambah arti kehidupan, untuk apa kita hidup dan akan kembali kepada siapa kita ini.


03 Februari 2009





Saat sendiri bersimpuh aku sujud di hadapanMu

Sadari sendiri semuanya karena ciptaMu

Terhanyut angan dalam pelukan sang bulan

Terangi semua bintang dan segala isinya


Indah malamMu

Hadirkan mimpi di dalam tidurku

Hangat hariMu

Membawaku terbang di dalam pelukmu


Terima kasih ucapkan

Atas segala maha karya untuk diriku

Puji syukur ucapkan

Untuk segala anugerah yg telah Engkau berikan


Terima Kasih - ClubEighties


Download lagu nya disini

03 Februari 2009

Bandung, 20 Desember 2008



Matahari masih belum bersinar begitu terik sinarnya masih berwarna keemasan, disaat 2 pasang roda sepeda mulai melaju kearah perbukitan bandung utara, Tahura. Di kala sebagian orang lebih memilih tetap berbaring di kasur yang empuk dan berselimut hangat di dinginya pagi, kami sudah basah bercampur keringat memulai perjalanan demi sebuah petualangan yang niscaya akan memperkaya arti sebuah kehidupan. Start dari McD Dago, saya dan Abah memulai petualangan hari ini, menelusuri jalanan aspal dan makadam, mendaki tanjakan putus asa, menikmati view panorama dari dataran atas. Menghirup segarnya udara pagi pegunungan yang belum terkontaminasi oleh pekatnya polusi.




Bunga ilalang yang berwarna putih bergoyang-goyang tersapu angin pagi, disepanjang tanjakan putus asa yang tumbuh begitu subur, diantara biji yang ringan berwarna putih bercampur sedikit coklat tua, angin di musim penghujan telah membawanya ke suatu tempat agar kelak perkembangbiakannya bertebaran dimuka bumi. Bunga ilalang adalah permain popular masa kecil, untuk “menipu” teman biasanya kami menggodanya bahwa batang dibawah bunga ilalang manis seperti sebatang tebu yang sudah dikupas, sehingga ia mencicipinya dan memakannya, dengan secepat kilat tangan ku menarik ujung ilalang itu hingga bunga yang seperti kapas masuk semua di mulutnya. Ini adalah permainan hiburan pengisi waktu luang disaat istirahat bermain bola.



Tanjakan putus asa itu membuat nafas kian sesak dan terasa perih di tenggorokan seiring menipisnya oksigen, detak jantung berdebar makin kencang, gowesan semakin berat, tenaga serasa makin berkurang, Aku ingin cepat-cepat sampai ke warung bandrek. Warung bandrek sudah menjadi pemicu dan membuat aku bersemangat agar tetap sabar dan semangat melaju di tanjakan. Warung itu seakan menjadi magnet bagi kami untuk senantiasa berkunjung ke tempat itu walaupun harus melewat tanjakan yang panjang.


Warung bandrek, sesuai dengan namanya warung ini menjual bandrek dan berbagai anek gorengan, tempat ini pun terkenal di dunia pesepeda gunung, tempat berkumpulnya para biker. Menikmati bandrek susu diudara dingin sebagai penghangat tubuh, bercengkrama dengan kawan-kawan lama, menikmati view kota Bandung di pagi hari nan sejuk dan indah.




Puas menikmati teh manis dan dua buah gorengan hangat, perjalanan kami lanjutkan, kini kami melewati single track, jalan yang menakutkan karena dilapisi oleh akar dan batu. Dijalan ini kami istirahat sambil menunggu abah yang sedang menelepon ambu, sesekali sambil membetulkan rante sepeda yang terlepas karena goncangan yang berulang-ulang. Abah memang perhatian sama ambu disaat-saat bersepeda pun abah sering berhubungan keluarganya. Bahkan abah pun sering bercerita tentang putrinya yaitu Zahra Ilma Zaidan, putri yang diamanahi oleh Alloh kepada abah.



 



Single track itu menembuskan kami kearah maribaya, kawasan wisata air terjun yang terkenal. Jalan tadi mengarahkan kami ke jembatan penghubung antara tahura dengan maribaya. Di pagi ini sudah banyak pengunjung yang sengaja untuk berolahraga di alam terbuka. Dari jembatan ini, trek dilanjutkan dengan naik kembali ke atas menyusuri jalan bertembok dan tembus ke jalan raya maribaya, dan jalan ini yang akan menuntun kami menuju ke arah pasar lembang.


Setelah melewati pasar lembang kini kami berbelok ke arah kiri, melewati sedikit makadam dan menanjak. Maka habis tanjakan itu kami tiba di area bochsa yaitu area penerpoogan bintang. Dari sini kami akan melewati turunan single track sampai menuju ke arah eldorado yang selanjutnya akan melewati jalan raya sethiabudi. Tetapi kami hanya memotong saja sedikit dan dilanjutkan ke single track lagi yang akan menuju ke Pondok Hijau.


 






Inilah kawasan surga pesepeda Downhill, tebing yang ditumbuhi oleh rumput ini adalah tempat yang paling asyik untuk dijadikan tempat beramain, Bersepeda, ada yang prosotan, ada yang photo praweding, atau hanya nongkrong di puncak bukit. Disini saya dan abah mengulang naik-turun dengan sepeda sampai kali ketiga.



Setelah jalur ini kita akan melewati pintu gerbang perumahan pondok hijau dan tembus ke gegerkalong. Saya dan abah berpisah disini. Trip kali ini saya rasakan sangat puas.



Siapakah yang tidak dapat mensyukuri keindahan alam ciptaan yang Maha Kuasa?? Hanya orang-orang yang miskin hatinya saja, atau orang-orang yang tidak mau bersyukur atas anugrah yang telah Alloh SWT berikan.



“Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan”



Doakan kami tanggal 2 Januari 2008 kami akan gowes ke Cidaun-ciwidey-Dewata-Wayang Windu.



Taryana Jangkaru, adalah seorang pesepeda gunung, Mahasiswa dan karyawan pers Swasta.

03 Februari 2009

Catatan perjalanan Cikole, 23 November 2008, oleh Abah Zaidan



Hari Minggu kemarin saya disiksa Taryan Taryana.



Sejatinya, perjalanan ini dilakukan pada hari Minggu sebelumnya (16/11). Karena satu hal, terpaksa dibatalkan.



Namun, selalu saja ada hikmah di balik peristiwa. Perjalanan tertunda itu sukses terlaksana, bertepatan pula dengan acara Dirtfest 2008, acara Polygon yang kerja sama bareng Bandung All Mountain (BAM).



Dengan track yang masih sama, plus ke Cikole tentunya, ini adalah perjalanan ketiga saya bersama Extrada ke Bandung Utara. Rekan, sekaligus guide saya kali ini adalah Taryan Taryana. Teman yang pertama kali saya kenal di acara MOKA ini berbaik hati menyertai saya yang masih hijau di dunia pergowesan.



Lalu, dia susunlah rute berperjalanan. Ini rute yang direncanakan dua minggu lalu:

start gegerkalong - pondok hijau- ciwaruga- rumah strawbery - kaveleri berkuda - vila merah – sukawana - kebun teh - jalan cikole - turunan bagadul (alternatip jayagiri) - pasar lembang - bocsha - eldorado -pondok hijau - kpad



Karena ada event Dirtfest itulah, tujuan keberangkatan dipastikan ke Cikole. Baru pulangnya lewat Jayagiri dan menempuh – yang dikatakan Taryan sebagai – jalur karpet. Katanya, gara-gara serpihan daun pinus yang bertebaran di sela-sela pepohonan.





* * *



Saya berangkat dari Arcamanik. Perjalanan belum dimulai, tenaga sudah terkuras. Sepanjang Arcamanik sampai Setiabudhi tidak saya jumpai turunan sedikit pun.



Akhirnya, sampai juga di Daarut Tauhid (DT), meeting point yang dijanjikan. Pukul 06.30 saat itu. Jam saya menunjukkan 51 menit berlalu sejak keberangkatan. Sekira sepuluh menit saya menunggu. Tampak ada kesibukan di sana. Seperti sedang menunggu tamu. Orang-orang sibuk dengan tugas masing-masing. Padahal, pengajian sudah selesai. Belakangan saya tahu, hari itu, Aa Gym menikahkan putri sulungnya.



Tak lama Taryan datang. Lalu kami mulai meluncur ke arah barat. Masuk Komplek Pondok Hijau, menyusuri jalan aspal komplek perumahan, lantas masuk gang. Katanya ini jalan tembus menuju Setiabudi Regency.



Lewat komplek Setiabudhi, perjalanan dilanjutkan menyusuri kawasan Ciwaruga, melihat-lihat pembibitan tanaman yang boleh jadi kelak dipajang di sepanjang Jalan Cihideung. Rupanya di sini dapur dari Industri tanaman yang tersohor itu.



Di pertigaan yang ada penunjuk jalan menuju Cafe The Peak kami berhenti untuk mengistirahatkan kaki. Membasahi kerongkongan dan menandaskan pisang yang saya bawa. Saya bagi dua, setengah buat Taryan Taryana. Sisanya buat nanti di perhentian selanjutnya.



Taryan melakukan hal yang sama, untuk ginseng yang dia bawa. “Doping, Bah! Meh kiat nanjakna engke.” Katanya. Lalu, dia menuang cairan ginseng dalam kemasan ke dalam tutup botol minum saya. “Aya nu mangnyandakkeun, oleh-oleh ti Korea,” lanjutnya.



Tak lama, kami beranjak. Menempuh medan yang kembali menanjak.



Sebentaran kami menjumpai turunan, ketika melintasi Rumah Stroberi. Lalu menanjak lagi menjelang Kavaleri. Akhirnya, kami menjumpai jalan raya Parongpong. Di perlintasan jalan raya itu, saya teringat penjelasan sang rekan. Katanya, jalur yang kami tempuh adalah jalur tengah. Mungkin disebut begitu, karena tengah-tengah antara jalan raya Cihideung dan Cihanjuang.



Sampai di kawasan Parongpong itu, Taryan lalu masuk ke komplek Villa Istana Bunga. Karena bersepeda, petugas berbaju satpam tidak memberhentikan untuk memungut retribusi. Mungkin karena kasihan juga pada kami yang terlihat letih dan bermandi peluh. Tanjakan di jalan masuk ini, bahkan ketika saya bermobil menuju Villa Bi Ati pun harus ganti ke gigi satu, sungguh menyiutkan nyali.



Dari pintu masuk, kami menyusuri jalan berpaving block, hingga akhirnya melihat pos satpam kembali dan jalanan setapak menuju Sukawana. Sebuah jalan tanah di antara rerumputan dan ilalang. Hingga sampai persimpangan menuju villa merah, kami beristirahat kembali.



Kali ini, pisang kedua tandas. Nyaris bersamaan dengan bakpia yang Taryan bawa. Air pun sudah mulai menipis. Kata Taryan, di warung kecil di atas, kita bisa mengisi botol air yang sudah kosong.



Perjalanan kembali dilanjutkan. Masuk lagi jalan setapak, hingga di ujungnya saya mencium bau teh yang sangat kentara. Ho ho ho, kebun teh kawanku, kebun teh. Saya tiba di sebuah ketinggian di mana teh bisa tumbuh subur.



Wangi teh itu memang berasal dari sebuah pabrik pengolahan teh Sukawana. Kepunyaan salah satu PTPN (entah nomor berapa, saya lupa). Di situ pula kami menjumpai warung kecil dan sebuah sekolah dasar. Setelah parkir, sebagaimana rencana semula, kami membeli air dan mengisikannya ke botol masing-masing.



Perjalanan pun dilanjutkan. Mulai menyisir jalan tanah yang bergantian dengan makadam. Di kanan dan kiri terhampar indah deretan kebun teh. Sedikit mengobati keletihan menempuh jalan yang masih menanjak. Hingga akhirnya, kami menjumpai sebuah ‘saung’, mungkin tempat berkumpul ibu-ibu pemetik teh.



Di sini kembali beristirahat. Sambil foto-foto tentunya. Taryan menunjukkan arah nama tempat yang tak asing. Di sana Cimahi, katanya, ketika menunjukkan deretan tiang-tiang listrik besar. Menara di sana letaknya di Tangkuban Perahu, lanjutnya menunjuk ke arah atas. Nah, kalau ke Situ Lembang, bisa lewat sana.



Guide saya kali ini sungguh kompeten. Pengalamannya bersepeda di kawasan Bandung utara memang luar biasa. Di saung ini pula, yang beratapkan seng dan bertiangkan besi berkarat, saya berkesempatan menjajal XC Dominated milik Taryan. Kokoh dan stabil. Tak heran jika sepeda ini sudah pernah disiksa di mana-mana oleh pemiliknya.



Sejauh itu, satu hal yang saya pelajari, konsistensi itu penting. Saya menyesal agak terburu-buru memforsir tenaga, padahal perjalanan menuju Cikole masih sekira satu jam lagi. Bahkan bisa lebih.





* * *



Puas berfoto, perjalanan kami lanjutkan. Kali ini medannya agak rata, bahkan menurun. Tapi gara-gara turunan dan alur batas jalan yang dibuat mobil, di situ pula saya tersungkur. Tak ada luka, Alhamdulillah. Hanya saja, salah satu otot di kaki kanan agak menegang. Rasanya seperti saat kram.



Jalan mulai mengerucut. Ada semacam gerbang yang terbuat dari semak. Ini pintu masuk jalan menuju Cikole. Kembali menanjak. Bergantian antara jalan tanah dan makadam.



Kadang, beberapa kali terlihat jalan tanah ambrol karena mobil offroad. Saya teringat ambu, dan ucapan seorang temannya yang masih saja mengaku kalau offroader mobil itu cinta lingkungan. Melihat dengan mata kepala sendiri, rasanya saya sangsi.



Beberapa kali pula menjumpai pencari rumput untuk ternak mengangkut gerobak. Menyusur jalan menurun dengan gerobak penuh rumput. Di jalur ini, tak selamanya menanjak.



Tanjakan dan turunan datang silih berganti. Jalan tanah dan makadam, terkadang lumpur yang mengeras juga kami lewati. Mungkin hari itulah kali pertama Sepeda saya yang bernama EXTRADA itu disiksa. Dipaksa mencicipi berbagai kontur jalan.



Rasanya ajaib juga. Seperti singa sirkus di bawa ke rimba. Sempat terasa sungkan, hingga akhirnya malah ketagihan. Ini memang medan yang seharusnya. Sepeda Hardtail kan memang untuk cross country, senyum saya. Dalam hati saja tapi.



Pohon-pohon pinus di kanan kiri seolah memberi tahu bahwa kami sudah masuk ke daerah Cikole. Di jalur ini juga sempat berhenti. Membuang air sisa yang kami minum tadi. Mungkin gara-gara tersekresi menjadi keringat, hanya sedikit urine yang tersisa.



Tak terasa, hari sudah agak siang. Di jalanan aspal berhiaskan batu, akhirnya saya tahu bahwa Cikole sudah di depan mata. Kini, jalurnya menurun. Di depan sana, terlihat umbul-umbul berwarna oranye bertuliskan Polygon. Akhirnya, saya sampai di tempat tujuan.



Hal menyenangkan pun terjadi. Ketika petugas stand Rodalink menawarkan jasa. “Kang, bade diservis sepedahnya?” tanyanya. “Gratis koq!” lanjutnya. Baby, whatta big surprise!



Ketika semalam saya mati-matian menyetel derraileur hingga jam 12, itu pun masih terasa trimming, lalu ketika sepanjang perjalanan sepeda rasanya disiksa tanpa ampun, tiba-tiba ada yang menawarkan jasa. Lalu saya bawalah sepeda Extrada itu ke stand.



Setelah registrasi, menuliskan nomor HP, menandatangani form dan memberitahu keluhan, sepeda pun saya tinggal.



“Rejeki Extrada, Bah!” kata Taryan. Saya mengangguk pelan. “Untung we disiksa heula sapedahna, jadi servis gratisna teu mubadir teuing, Kang,” jawab saya.



* * *



Di acara Dirtfest itu ada beberapa kompetisi. DH alias downhill juga BMX competition. Selain itu ada pula stand-stand jualan produk. Rodalink yang tadi saya bilang adalah salah satunya. Lainnya, ada Oakley, ada pula Polygon yang memajang sepeda Royal Series terbaru mereka. Produk itu, selain dipajang, ternyata boleh dicoba. Bahasa kerennya, Test Ride.



Mumpung gratis, saya juga melakukannya. Daftar, menyerahkan KTP, lalu mencoba Collosus SX 3.0. bergarga 33 juta aja. “Iraha deui?” pikir saya. Menjajal sepeda yang mungkin tak bakalan bisa saya beli.



Puas menjajal (dikasih waktu lima menit saja), sepeda saya kembalikan ke tempatnya. Ada goodies bag menanti. Berisikan beberapa lembar brosur produk, jam dinding juga botol air.



Heheheh mungkin ini rejeki nanjak. “Dan sesungguhnya, setelah kesulitan itu ada kemudahan”



Sampai sekira jam setengah dua belas, kami memutuskan untuk pulang. Kali ini, Dwey ikut bergabung. Jalurnya tidak lewat jalan raya Cikole. Kali ini kami bakal melewati Turunan Bagadul, masuk jalur karpet, begitu yang dikatakan Taryan, dan keluar dari Jayagiri.



Tapi sebelum ke sana, saya dipaksa merasakan tanjakan panjang yang sepertinya tak kunjung selesai. Dua kali sepeda saya tuntun. Tenaga sudah habis terkuras saat berangkat. Sempat singgah di sebuah warung kecil, Taryan mengisi amunisi dengan seporsi besr nasi dan lauknya. Saya hanya menyuapkan dua setel leupeut dan gehu. Lumayan, menyimpan sedikit tenaga untuk pulang.



Lalu, setelah jalan setapak terjal, kadang-kadang harus turun dan memanggul sepeda, saya menjumpai jalur karpet yang dia maksudkan. Ternyata, bukan karpet yang rata yang saya jumpai.



Karpet bergelombang yang dibawahnya melintang akar-akar panjang dan besar. Sempit pula. Tapi.... pengalaman baru ini benar-benar menyenangkan. Meski kembali terjerembab di sebuah tempat dengan legok yang cukup dalam, tak ayal saya menikmati perjalanan ini.



Meskipun tangan sudah cukup pegal menahan handle bar sepeda dan tuas rem, perjalanan ini sungguh-sungguh mengayakan. Bahkan saya hampir tak percaya dengan apa yang saya tempuh dalam 6 jam ke belakang. Seolah menguji batas ketahanan diri, saya memaksa keluar kemampuan dan konsentrasi saya untuk menyelesaikan apa yang saya mulai.



Hingga akhirnya kembali menyentuh jalan aspal menurun dari Lembang ke Bandung lalu sampai dengan selamat sentosa di rumah, tak henti saya mengagumi rekan saya yang kemarinnya baru saja mengantar warga IPDN itu.



“Taryan Taryana memang Tangguh Tangguha,” kagum saya.



* * *



Jujur, malamnya saya agak menghangat. Gejala hareeng biasa sehabis berpanas-panas ria. Fenomena yang sama seperti kala bermain bola di tengah terik siang. Saat bangun esok paginya pun masih terasa pegal di sekujur tubuh.



Lalu, ketika esoknya Taryan meminta maaf telah menyiksa Extrada, saya terbahak. Bahkan, saya bilang sama dia untuk lebih sering lagi mengajak saya berperjalanan.



Satu hal lagi, herannya, entah sugesti atau apa, ketika hari itu saya ber B2W kembali, koq rasanya jadi lebih ringan, yak?



Hmmm... kalau saja ini efek dari disiksa Taryan Taryana, rasanya saya bakal sering-sering minta disiksa.



Tabik!



Bandung, Suniaraja, 25112008: 15.40.

03 Februari 2009

Wonder Woman


Bandung, 17 Des 2008 @ 18:30


"......ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh Tatar Periangan dan terbentuklah sebuah danau yang besar. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu..." 


 


Langit pagi itu begitu cerah, udara pagi yang masih terasa dingin berhembus meniup ke arahku. Dihari libur seperti ini, suasana dipedesaan tidak begitu ramai bahkan terlihat santai seperti hari yang malas. Embun pagi yang menempel di rumput dan pepohonan mulai menguap karena kehangatan sinar mentari. Burung-burung berpindah-pindah dari satu dahan kedahan lainnya dan dari pohon ke pohon lainnya. Kicauan burung yang saling bersahutan mewarnai suasana alam desa di pinggiran hutan.



Sepeda mulai kukayuh seorang diri, menumbuhkan semangat yang makin menyurutkan asa. Sendiri itu bukan hal gampang dalam berpetualang karena petualangan adalah penjumlahan antara resiko dan tujuan. Dimana setiap menggoda bahaya ada resiko yang harus ditanggung, bisa jatuh, patah tulang atau pingsan. Tapi ketakutan itu harus dilawan agar menjadi pemberani. Karena ketakutan itu hanya sementara dan ketagihan selamanya.


Matahari mulai meninggi, beberapa orang perumput sudah pulang dengan membawa rumput. Ada yang unik disini, yaitu cara mereka membawa rumput dari hutan ke rumahnya masing-masing. Ada yang pake mobil, ada yang pake motor ada yang pake roda dan ada pula yang digendong dipunggung. Khusus untuk yang dibawa dipunggung biasanya dilakukan oleh ibu-ibu pencari rumput.


Biasanya yang mereka gendong bukan hanya rumput tapi terkadang saya melihat membawa kayu bakar atau hasil perkebunan berupa sayuran. Beban mereka sangatlah berat pagi-pagi mereka harus memasak, mencuci baju keluarga lalu menjemurnya, membersihkan rumah dan mengurus anak-anak yang mau berangkat sekolah. Dipedesaan biasanya anak seusia 5 tahun keatas berangkat sekolah tidak perlu di antar karena mereka dididik untuk mandiri dan harus berani.


Saya jadi teringat masa-masa ketika masih duduk di bangku smp, setiap pulang sekolah atau hari libur saya harus merumput membantu ibu, karena ayah harus pergi ke sawah dan pulangnya sore jadi ternak kami harus ada yang mencarikan rumput. Beternak adalah pekerjaan sampingan petani setelah pulang dari kebun/sawah atau sebelum berangkat. Setiap hari kami harus merumput dan yang tak kalah menarik adalah kami selalu berpindah-pindah untuk mencari lahan rumput yang baru. Tanggung jawab itu sangat ringan jika kita melakukannya dengan senang hati dan sepenuh hati.


Saya bangga dengan ibu, ditengah kesibukan dan tanggungjawabnya ia dapat membesarkan anak-anaknya, mendidiknya, membimbing dan terkadang memberikan nasihat-nasihat dari kejadian-kejadian yang pernah dialami, agar kami bisa bercermin atau mencontoh untuk kejadian yang akan datang.


Dijalanan single track ini sering dijumpai para pencari rumput, dari mereka ada juga wonder woman – wonder woman yang lainnya. Mereka harus bergelut dengan gatalnya bulu rumput, menyikap semak-semak, naik dan turun bukit, membawa rumput melewati makadam yang kian menurun membuat dengkul cepat terasa lemas.


Itulah wonder woman versi saya, versi pemuda desa yaitu wanita yang mempu membagi waktunya, mengukur kekuatannya, mempunyai keberanian dalam berjuang dan mengutamakan kesabaran dalam menghadapi liku kehidupan. Yang diutamakan adalah kecantikan hati dan kekayaan hatinya bukan mengutamakan kecantikan fisik dan kekayaan hartanya.


Adzan Isya Sudah Berkumandang... Saya cukupkan sampai disini


Taryan adalah seorang mahasiswa, pesepeda gunung, dan karyawan perusahaan swasta yang sedang mencari calon pendamping hidup.

03 Februari 2009







Pangalengan 16 November 2008



Kabut masih saja menyelimuti desa, disaat mentari malu-malu untuk menampakan diri di minggu pagi. Segerembolan ibu-ibu pemetik teh dengan topi lebar yang khas mulai menapaki jalanan aspal menuju perkebunan teh. Udara pagi pedesaan begitu segar dan terasa dingin menusuk tulang. Hilir mudik penduduk desa, petani sayuran dan petani susu sudah menjadi pemandangan yang khas setiap pagi.





Pagi itu kami berjalan-jalan disepanjang perkebunan teh. Perkebunan teh malabar bak permadani yang terhampar luas dibumi pangalengan. Sebagai karya besar diantara karya-karya besar Bosscha. Di Pagi itu pulan nampak para pencari kayu bakar dari pohon teh sudah pulang dengan membawa seikat besar pohon-pohon teh diatas kepalanya. Menembus embun-embun pagi yang masih membasahi rumput setelah hujan semalaman mengguyur pangalengan.











Di aera perkebunan teh terdapat makam Bosscha, peristirahatan terakhir itu begitu rimbun diteduhi oleh pohon-pohon besar. Bosscha merupakan orang yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi pada masa penjajahan belanada dan juga merupakan seorang pemerhati ilmu pendidikan khususnya astronomi. Dipinggiran makam terlihat petugas sedang menyapu, Beliau yang diamanahi untuk menjaga kebersihan dan kerapihan makam boscha. Sejurus kemudian setelah meminta izin kami diperbolehkan untuk memasuki makam bosca yang berukuran bulat dengan tulisan-tulisan yang tidak saya mengerti.



Sekitar pukul 10.00 wib, Kami yang terdiri dari team Mandala Adventure, para peserta, Instuktur tiba di situ cileunca. Para peserta sedang brefing untuk membuat rakit dari bambu dan ban. dan dibuat beberapa tim. rencanya tim ini akan menyebrangi danau sampai ujung dan balik lagi ke tempat start. Sementara saya sepedahan mengelilingi situ cilenca melewati bendungan sebelah timur sebagai jalan menuju tepian danau.







Tepat kumandang adzan duhur para peserta selesai dan bersitirahat. Sebagian diantaranya melaksanakan shalat dzuhur. Kami pun bergantian melaksanakan ibadah shalat duhur. Setelah selai shalat duhur kami pun makan siang dengan menu istimewa. Setelah isitrahat sesaat para pwserta kemabli di brefing karena akan melaksanakan arung jeram aliran sungai situ cileunca.





Terdapat 7 buah perahu yang dilengkapi pemandu dimulai dilepas satu persatu untuk menjelajah sungai. Wajah-wajah kegembiraan bercampur ketegangan terlihat dari wajah-wajah peserta. Mereka begitu menikmati petualangan yang begitu memacu adrenalin.



** Kejadian menegangkan



Ketika memasuki turunan curam, aku pun siap menjpret setiap momen yang menegangkan, benar saja ketika ada seorang wanita yang jatuh dari perahu, badanku tiba-tiba terdiam dan kaget kamera yang saya pegang tidak sempat mengambil gambar-gambar menegangkan tersebut. Badanku seperti kaku, seakan terhipnotis oleh kejadian tersebut, diam sesaat. Seperti adegan mahar dalam film laskar pelangi yang telah siap dan yakin akan menjawab pertanyaan, akan tetapi ia kaget begitu terjepret oleh kamera dan cahaya dari blitz. Yang mengakibatkan pertanyaan dijawab oleh grup lain.



















Kami tidak bisa mengikuti sepanjang aliran sungai karena medannya sangat sulit untuk dilalui dengan sepeda. Sesampai dijembatan lalu kami memotong arah melewati perkebunan teh dan menunggu para peserta dilintasan finish sebelum bendungan dimana setiap peserta arung jeram selalu berhenti disini.





Langit mulai mendung kembali, segera saja kami berkemas menaikan sepeda ke mobil. Benar saja setelah kami beres menyusun sepeda hujan mulai mengguyur lebat. Mengalir diantara selokan-selokan yang selanjutnya bermuara disungai. Setelah pamitan pada panitia dan para peserta kami pun pulang ditemani hujan yang mengguyur jalanan bebatuan tak beraspal sepanjang kebun teh.



*** Terimakasih Kepada Ust. Amri, Bpk Dandi, Kang Agus, Teh Dewi, Manadala Team, Hotel Citere, Mandala-Set Wapres ***